Tuesday, August 30, 2016

Menyegarkan Aura Festival

Oleh Kuss Indarto

 
Festival Kesenian Yogyakarta atau FKY datang lagi untuk ke-28 kalinya. Selama hampir tiga dasawarsa terakhir perhelatan seni dan budaya ini turut mengiringi perjalanan dan dinamika kebudayaan, khususnya di jagat kesenian di lingkungan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Beragam persoalan kesenian yang bisa terwaliki dalam perjalanan perhelatan kesenian tersebut.

Ada masanya ketika penguasa Orde Baru di bawah rezim Soeharto secara langsung atau tak langsung memberlakukan “politik perizinan” yang represif dalam segala lini, termasuk dalam dunia seni. Ini berlangsung mulai awal mulainya FKY hingga tahun 1998 saat pemerintahan Soeharto jatuh. Maka, tak heran bila panitia pun—secara konseptual dan teknis—memberlakukan self-cencorship atau aksi antisipatif dengan menyensor materi karya seni yang berkemungkinan akan “meresahkan masyarakat”. Standar “meresahkan masyarakat” itu tentu banyak berasal dari jaring-jaring birokrasi yang menjadi salah satu benteng kekuasaan.

Pasca 1998, situasi sosial politik berubah banyak. Ini berimbas pada dunia proses kreatif, persisnya jagat kesenian yang relatif lebih demokratis. Sensor terhadap karya lebih mengendur, tak lagi ketat, seperti situasi sebelumnya. Banyak pihak yang menyatakan bahwa keadaan ini—ketika negara tidak sangat represif—situasi dunia kesenian lebih cair, kreativitas jauh lebih terbuka karena tidak ada sekat-sekat sensor dari Negara. Namun kenyataannya juga tidak sepenuhnya seperti harapan. Sekarang, sensor justru tetap terjadi dan dilakukan justru oleh masyarakat sendiri—yang terpilah-pilah oleh kepentingan masing-masing. Sementara ketika Soeharto berkuasa, kreativitas di kalangan seniman pun terjadi, misalnya dengan mengeksplorasi dunia simbol-simbol yang membuat karya tidak terlalu mentah, vulgar, bahkan sarkastik, namun ada nuasa eufemisme atau penghalusan dalam cara ungkap ekspresi. Ini merupakan bentuk kreativitas tersendiri.

Saya kira, perjalanan sejarah FKY juga mengalamai pasang-surut seperti itu. Ada kalanya kreativitas dan perijinan begitu rumit karena peran negara relatif cukup eksploitatif masuk ke dalam proses penyelenggaraan perhelatan tersebut. Sekarang berbeda. Ada sedikit kelonggaran yang terjadi dalam kaitannya dengan penyelengaraan. Semacam debirokratisasi.

Namun keunikan justru terjadi pada masalah konten atau substansi karya para seniman. Sekarang ini, cukup sulit menemukan karya seni (khususnya di seni rupa) yang menggali problem sosial politik sebagai basis utama karya. Publik banyak menemui karya-karya yang memiliki muatan kritik sosial politik pada karya seniman (Yogyakarta): Djoko Pekik, Dadang Christanto, Heri Dono, Yuswantoro Adi, Agung Kurniawan, Hanura Hosea, dan sekian banyak nama seniman lain—dengan segala gradasi dan variasi cara ungkap visualnya. Setelah Reformasi terjadi tahun 1998, situasi sosial politik yang tak lagi direpresi negara, justru banyak seniman yang tidak lagi berminat untuk berkarya dengan tema sosial politik.

Kini, banyak seniman yang berbicara tentang dirinya sendiri, misalnya mengeksplorasi potret diri, mengolah keindahan visual, bahkan tidak sedikit seniman yang tertular virus “budaya copy-paste” dalam karyanya. Artinya, karya-karya itu lahir dengan titik berangkat dari pengalaman melihat karya seniman lain di belahan bumi yang lain, lalu menyalin dan mengubah sana-sini, maka jadilah karya seni. Kecenderungan seperti ini terjadi seiring dengan perkembangan teknologi infomasi dan internet yang begitu deras dan pesat. Seniman adalah salah satu entitas atau bagian dari masyarakat yang terimbas oleh situasi itu, dan lalu menikmatinya sebagai bagian dari cara atau strategi dalam berkarya kreatif. Tentu saja di luar karya-karya jenis seperti itu masih banyak karya lain yang dilahirkan oleh para seniman dengan semangat yang jenial dan kreatif lagi. Misalnya ada yang menggali imajinasi yang tak berkehabisan. Pun ada pula yang menggali akar tradisi atau hal yang berbau lokal untuk kemudian diolah dan dieksplorasi lebih jauh.

Dalam pameran FKY seperti sekarang ini pun kurang lebih serupa. Semua kecenderungan visual yang telah saya sebutkan di atas kemungkinan ada. Lepas dari masalah pencapaian dan kualitas karya, ada pertanyaan mendasar yang perlu dijadikan sebagi bahan refleksi atas perhelatan FKY yang telah 28 tahun ini: Hendak dibawa kemanakah FKY ke depan? Bagaimana masyarakat bisa ikut terlibat dan ikut mengalami perhelatan ini?

Sepengetahuan kita bersama, sifat dasar atau karakter dari sebuah festival adalah partisipatif. Artinya perhelatan ini menampilkan sebuah peristiwa kesenian yang sebanyak mungkin menyerap sumber daya seni yang ada di lingkungannya. Maka, ketika festival itu berada di kawasan Yogyakarta, maka sebanyak mungkin seniman yang ada di dalamnya idealnya diikutsertakan. Semua bisa merasakan atmosfir fiesta, pesta. Namun niatan baik itu pasti akan betumbukan dengan problem lainnya, yakni keterbatasan ruang, dana, dan semacamnya. Maka, taka da salahnya bisa karakter yang partisipatif itu diengkapi dengan aspek lain, yakni kompetitif. Sifat kompetitif ini mungkin akan berseberangan dengan karakter sebuah festival. Namun aspek tersebut bisa memberi nilai, bobot, dan kualitas yang lebih bagus pada sebuah festival. Maka, ketika ada keterbatasan dalam aspek ruang, dana, waktu dan sebagainya itu, bukan tidak mungkin pola seleksi dilakukan untuk mendapatkan materi karya yang lebih layak, sesuai tema, dan nyambung dengan karakter festival bersangkutan. Bobot sebuah festival pun akan bernilai kompetitif di mata publik.

Apapun, Festival Kesenian Yogyakarta tetap harus dihidupkan meski telah mengarungi banyak aral, hambatan, dan keterbatasan. Di Indonesia, kiranya hanya ada Pekan Kesenian Bali (PKB) dan FKY, festival yang bertahan lama dan masih dirawat hingga kini. Apakah kita rela bila FKY lambat laun terkubur? Tapi juga sebaliknya, apakah kita ikhlas bila kualitas FKY stagnan, mandeg, dan hanya begitu-begitu saja? Para seniman, pengampu dunia seni, dan semua masyarakat penyangga berhak dan wajib merawat dan menyegarkan perhelatan ini dari tahun ke tahun. Selamat berfestival. ***

Kuss Indarto, penulis dan kurator seni rupa.