Thursday, August 18, 2016

Rekontekstualisasi Komik

Oleh Kuss Indarto
 
Dua belas perupa yang juga staf pengajar pada beberapa perguruan tinggi di Jakarta ini adalah representasi dari generasi yang mengalami masa kecil di dasawarsa 1970-an. Dasawarsa 1970-an hingga 1980-an menjadi kurun puncak dan penting bagi perkembangan dunia komik Indonesia. Dalam karya para perupa Jagad Roepa ini, apresian digiring untuk mengingat kembali tentang komik.
Komik-komik dikreasi oleh para komikus lokal dan dimassalkan oleh jejaring kerja produksi yang relatif masih konvensional namun mampu menembus kebutuhan publik. Dan publik sebagai pasar meresponsnya tidak sekadar sebagai sumber bacaan, namun secara perlahan menjadikannya semacam “club culture”, bahkan “subculture” yang menggejala waktu itu.


Tak heran, kalimat, gerakan, kebiasaan atau perilaku dalam komik-komik Pandji Tengkorak, Si Buta dari Gua Hantu, Kapten Mlaar, Gundala Putera Petir, dan sekian banyak judul komik yang beredar di Nusantara waktu itu telah menjadi sebagian panutan bagi sekelompok anak-anak yang gilkom (gila komik) kala itu.


Atau sedikitnya, sebagian anak-anak generasi itu menumpukan dunia visual yang ada dalam komik Indonesia tersebut sebagai bagian dari ingatan kolektif dalam menggambar atau berolah rupa—tidak hanya pada masa komik itu beredar beberapa dasawarsa lalu, namun bahkan hingga kini.


Kesadaran atas dunia visual dan narasi adalah jagat tentang komik Indonesia. Itulah yang setidaknya terjadi pada para perupa yang berpameran dengan tajuk “Tjergam Taroeng” ini. Para perupa dari komunitas seni Djagat Roepa Studio Enam ini mencoba merespons ulang atas situasi bawah sadarnya yang bertahun-tahun lalu pernah melihat, membaca dan mengakrabi dunia komik lokal untuk kemudian divisualisasikan kembali dalam format yang berbeda.


Ada yang kembali merunuti visualitas tokoh Si Buta dari Gua Hantu persis seperti yang pertama kali disaksikan dalam komik saat kecil dulu, untuk kemudian direkontekstualisasikan dengan problem mutakhir atau kekinian yang tengah aktual. Atau ada pula yang menyerap dunia komik itu dari aspek dasar visualnya. Pun ada juga yang menyerap spirit yang berserak di dalamnya, seperti aspek kebahasaan dengan kenakalan semantiknya, kenakalan visualnya, kebebasannya dalam memain-mainkan tipografi sebagai layaknya graffiti dalam street art, dan sebagainya.


Komunitas seni Djagad Roepa Studio Enam membopong kembali jejak “artifak” masa lalu komik Indonesia yang pernah berjaya dan menggejala di Indonesia beberapa dasawarsa lalu itu. Lantas spirit apa yang hendak dijadikan isu penting dalam pameran ini?


Kita bisa saja mempertautkan serangkaian karya-karya yang terpajang dalam perhelatan ini sebagai artifak dengan kecenderungan visual yang ditengarai dengan berbagai kemungkinan klasifikasi, seperti comical art, neo-pop art, kepingan street art atau stencil art yang diboyong ke dalam ruang indoor gallery, dan semacamnya.


Kita juga tidak menjumpai deretan karya yang secara rigid menjejerkan diri satu sama lain sebagai sebuah sequential picture yang membangun sebuah narasi seperti halnya komik yang sebenanya. Namun Ananta O'Edan, Toto M. Mukmin, Yassir Malik, Untung Saryanto, Yuli Asmanto, Aibidin M. Noor, Leonard Pratama, Nashir Setiawan, Andre Random, Iqbal M. Oemar dan Kurnia Setiawan ini sedang ingin mencomot kisah-kisah keseharian yang terpapar dalam realitas sosial untuk dipindahkan ke dalam kanvas atau media visual lain—dengan tetap mengingat scene pada komik-komik masa lalu yang pernah disimak.


Karya yang kemudian muncul bukanlah Pandji Tengkorak, Si Buta dari Gua Hantu dan tokoh komik lain dalam balutan atmosfir masa lalu, namun mereka dihadirkan dalam konteks ruang dan waktu, situasi dan kondisi yang relatif sama sekali berbeda—atau malah baru. Lebih dari itu, bahkan ada pula yang menghadirkan spirit perihal komik itu yang muncul: entah kelucuan figur, teks-teks verbal, dan sebagainya. Selebihnya adalah karya seni rupa dengan realitas artistik yang mencoba masuk dalam ranah dan konteks kekinian.


Akhirnya, pameran ini berpeluang membawa beberapa nilai yang mungkin bisa ditangguk di dalamnya. Pertama, para perupa ini seperti memberi satir yang eufemistik kepada kita semua bahwa sekarang ini dunia komik lokal bukan lagi menjadi raja yang dominan di wilayahnya sendiri. Tak seperti dulu (ketika para perupa ini masih kanak-kanak), dunia komik memberi warna yang relatif kaya dan inspiratif dalam keseharian sebagai anak-anak.


Kedua, gagasan dan konsep kreatif yang mengulik kembali masa lalu, masa kecil, dengan mempertautkan kembali konteks yang berbeda, akan berpeluang memberi pengayaan atas karya. Karya-karya dalam pameran ini relatif jelas pijakan dan basis konsepnya.


Ketiga, lepas dari soal pencapaian dan kualitas karya yang tentu tak bisa lepas dalam proses kreatif, pameran ini bisa sedikit-banyak memetakan persoalan keseharian anggota komunitas seni ini atas problem dunia teroritik dan dunia praksis. Sebagai dosen, para perupa ini ditantang untuk mempertautkan secara lekat, seimbang dan selaras antara dua hal ini. Dan di ruang pameran inilah tantangan sekaligus cermin sedang dipajang bersamaan—di depan para anak didiknya, di hadapan masyarakat. ***


Kuss Indarto, penulis dan kurator seni rupa.

(Catatan ini dimuat dalam katalog pameran "Tjergam Taroeng" yang berpameran di Galeri Nasional Indonesia, 14-24 Agustus 2016. 12 seniman pesertanya adalah para dosen FSRD Universitas Tarumanegara, Jakarta)